Beberapa tahun yang lalu, seorang gadis kecil duduk di sebuah ruang kelas dengan seragam putih-biru-nya, matanya mengikuti baris demi baris kalimat pada lembar kerja siswa (LKS) pelajaran PAI. Saat itu ia sedang menghadapi materi ulama-ulama dan ilmuwan besar Islam. Muncul di kepalanya, “Ah, ngapain, sih, ngapalin yang beginian? Kan lebih terkenal Einstein, atau Edison, atau siapa, tuh… bapak teori evolusi? Ah, Darwin…” dst…
Selamat, si gadis kecil telah terjebak dalam kekangan pemikiran orientalis. Orientalis? Kasus begituan dikatain orientalis? Hmmm… setidaknya, para pembesar pendidikan di negeri ini lebih banyak berkiblat ke barat sana. Lalu berbondong-bondong para guru dan orang tua mulai mengenalkan mereka pada para pembesar ilmu dari barat sana, yang beberapa teorinya ‘aneh’. Siapa tak mengakui teori Darwin telah bercokol kuat di dalam otak si gadis kecil dan teman-temannya? Tapi, kan, kenalan sama ilmuwan yang berjasa besar itu nggak salah. Yupz, emang nggak salah. Itu juga pengetahuan. Lanjutkan Membaca…