Bagaimanakah perasaan kita jika ada seorang tamu yang kita cintai dan rindukan memberitahu, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama kita selama beberapa hari, apa yang akan kita lakukan? Tidak diragukan lagi, kita akan senang dan berbahagia, kemudian kita akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin kita akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam rangka kunjungan itu. Bukankah demikian? Jawabannya adalah, “Tentu!” Dan, bagaimana jika tamu itu bukan saja kita cintai, akan tetapi juga dicintai Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini selama tinggal bersama kita antara siang dan malamnya membawa kebaikan dan keberkahan?

Tamu yang dimaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang mulia, bulan al-Qur’an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Bulan saat amal kebaikan dilipatgandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS. asy-Syams: 9). Lanjutkan Membaca…