<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Mahasiswa Muslim Bumiayu &#187; Bumiayu dalam Berita</title>
	<atom:link href="http://formmasibumi.com/category/bumiayu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formmasibumi.com</link>
	<description>&#34;Merenda Cinta Merajut Ukhuwah dalam Manisnya Iman dan Indahnya Islam&#34;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jun 2010 06:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kantor Mewah di Jalan Lingkar Bumiayu</title>
		<link>http://formmasibumi.com/bumiayu/kantor-mewah-di-jalan-lingkar-bumiayu/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/bumiayu/kantor-mewah-di-jalan-lingkar-bumiayu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 14:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afif Rakhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumiayu dalam Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[


















Pernah lewat jalan lingkar Bumiayu? Kalo jawabannya “belum”, sungguh kebangetan.  Jalan yang terbentang dari daerah sebelah utara Smansa, desa Pulogadung,  eh…Kaligadung hingga tepat di seberang mulut terminal “baru” Bumiayu kawasan  Pagojengan ini telah ada sejak sekitar empat tahun yang lalu. Jalan tersebut  dibangun di atas tanah yang sebagian besar berupa sawah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-28  aligncenter" title="kali keruh" src="http://formmasibumi.com/wp-content/uploads/2009/07/kali-keruh.jpg" alt="kali keruh" width="382" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pernah lewat jalan lingkar Bumiayu? Kalo jawabannya “belum”, sungguh kebangetan.  Jalan yang terbentang dari daerah sebelah utara Smansa, desa Pulogadung,  eh…Kaligadung hingga tepat di seberang mulut terminal “baru” Bumiayu kawasan  Pagojengan ini telah ada sejak sekitar empat tahun yang lalu. Jalan tersebut  dibangun di atas tanah yang sebagian besar berupa sawah, dari daerah Rancid  (nama keren buat Rancakalong), mlodos Brug Sakalimalas, Mbayur, Adisana,  Langkap, bablas terus hingga Muncang dan berakhir di Pagojengan. Perkerasan  jalan tersebut terbuat dari aspal hotmix, dengan lebar sekitar 8 meter, standar  untuk jalan luar kota. Dengan adanya jalan tersebut, masyarakat Bumiayu tidak  perlu lagi mangkel dengan adanya macet yang berkepanjangan di Jalan P.  Diponegoro (jalan utama yang membelah jantung kota Bumiayu) jika Lebaran tiba  atau acara karnaval Agustusan digelar. Kenapa? Karena semua arus kendaraan luar  kota akan dialihkan ke jalan lingkar tersebut, sehingga akan sangat  meminimalisir terjadinya kemacetan di kota. Begitu pula di hari-hari biasa,  untuk rentang waktu jam 5.00 – 17.00 kendaraan-kendaraan besar yang akan menuju  Purwokerto atau Tegal pun harus melewati jalan lingkar tersebut. Singkatnya,  jalan lingkar Bumiayu membuat arus lalu lintas makin lancar dan  teratur.<span id="more-26"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada lagi sisi lain dari jalan lingkar ini yang juga tak kalah  menariknya. Pemandangan alam. Jika kita melintas sepanjang jalan ini, kita akan  menemukan sejuta pesona alam pedesaan dan indahnya lukisan pegunungan yang  terhampar di sisi kanan-kiri jalan ini. Sawah-sawah yang menghijau di sana sini,  gambaran pegunungan Slamet disertai bukit-bukit yang membiru di sekelilingnya,  langit yang cerah, kokohnya Brug Sakalimalas, meander-meander dari Kalikeruh  yang berkelok-kelok, iring-iringan gerbong kereta api di daerah Adisana, apalagi  ketika kita berdiri di daerah Langkap, memandang lepas ke selatan,  subhanalloh…hamparan tanah Pagojengan, Taraban, Grengseng, Kaligua, Paguyangan,  Wanatirta, Winduaji dan Pereng begitu jelas terlihat. Sungguh indah ciptaan-Mu  Ya Alloh Yang Mahaagung.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa  di salah satu sisi jalan lingkar tersebut berdiri sebuah kantor “mewah” nan  “megah”? Belum tau kan? Makanya, coba deh sekali-kali jalan-jalan ke sana di  pagi hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kantor tersebut tepatnya berlokasi di sebelah Pom Bensin  Sakalibel. Dekat sekali dengan Brug Sakalimalas. Untuk head office (kantor  pusat)-nya, Ukurannya tak tanggung-tanggung, sekitar 20 x 100 meter. Hah…kantor  apaan tuh? Aneh banget? Sedangkan untuk branch office (kantor cabang)-nya cukup  banyak berjejer di dekat kantor pusatnya, tepatnya di jalan yang akan menuju  Penggarutan dan Benda.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kantor pusat tersebut, semua kegiatan usaha  dijalankan. Ada kegiatan eksplorasi dan eksploitasi, ada proses produksi yang  cukup rumit dan panjang, ada manajemen, juga tentunya ada marketing. Semuanya  ditangani oleh departemen-departemen tersendiri secara rapi dan terorganisir.  Kantor-kantor cabang bertindak sebagai “tangan panjang” dari kantor pusat  tersebut. Mereka menangani tugas-tugas produksi secara lebih variatif dan  marketing (yang paling utama). Bidang usaha kantor tersebut nampaknya pada usaha  ekstraktif.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan pegawainya? Cukup banyak, dan uniknya  beragam. Dari yang muda hingga yang tua, laki-laki maupun perempuan sekalipun.  Juga tak perlu mensyaratkan lulusan diploma atau sarjana, apalagi sampai  doktoral. Cukup punya kemauan untuk bekerja keras dan keuletan, siapapun bisa  menjadi pegawai di kantor bergengsi itu. Investornya pun tak perlu didatangkan  dari luar negeri. Cukup dengan para bumiputera yang menjalankan roda usaha,  semuanya ditanggung beres. Jam kerjanya? Jangan salah. Jam kerja mereka sama  dengan kita-kita yang di kota-kota besar. Bahkan, sebelum jam tujuh pagi pun  mereka sudah mulai aktif bekerja. Terus berupaya “menjemput rizqi” dari pagi  hingga sore menjelang. Tak kenal lelah, panas maupun dingin. Ya…walaupun omzet  maupun gaji dari para pegawainya tak seberapa, mungkin masih kalah jauh dengan  omzet studio-studio musik, diskotik, mall dan lapangan golf, atau gaji para  pembalak hutan Kalimantan dan kekayaan para koruptor, yang penting usaha mereka  halalan thoyyiban, bisa bermanfaat bagi orang banyak, mudah-mudahan sebagai  tambahan amal buat di akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Penasaran? Kapan-kapan sempatkan deh  berkunjung ke kantor mewah “mepet sawah” mereka di bilangan SCBD (Sakalibel  Central Bussiness Distric). Kantor pusat itu adalah Kalikeruh dan daerah-daerah  pinggirannya yang terbentang dari bawah desa Adisana hingga Brug Sakalimalas.  Bidang usaha mereka adalah penambangan pasir dan batu kali, untuk kemudian  diproduksi menjadi pasir, batu pecah bahan bangunan dan kricak. Kantor-kantor  cabang mereka adalah tempat-tempat pemecahan batu kali menjadi kricak di  belakang pom bensin serta tumpukan-tumpukan pasir dan batu pecah di sekitar  Kalionje. Para pegawainya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah berumur,  bahkan nenek-nenek dan kakek-kakek pun tak mau ketinggalan. Mereka bersemangat  sekali dalam mengambil pasir dan batu dari dalam kali, mengumpulkannya di tepian  kali, menjemurnya, membawanya ke kantor cabang, lalu para pegawai di kantor  cabang tersebut yang kebanyakan adalah nenek-nenek memecahnya menjadi  serpihan-serpihan batu kecil yang biasa kita sebut kricak. Bagaiamana ekspresi  mereka jika ada tamu datang ke kantor walaupun bukan customer? Sungguh manis.  Muka mereka berseri-seri, kemudian menyapa kita dengan lembut, “Pan maring endi,  mas?”. Omzet dan gaji mereka? Lumayan. Asal hari ini dapur bisa ngepul dan buat  biaya anak sekolah sewajarnya, itu sudah lebih dari cukup. Tak perlu muluk-muluk  harus bisa punya mobil, ha-pe mahal atau sekolah ke Amrik segala. “Sing penting  akeh syukure”, begitu mungkin buat mereka. Yah..kita banyak belajar dari  “korporasi elit” ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga, para pemegang kekuasaan di negeri ini,  terutama di daerah kita (yang baru saja naik tahta November kemarin) lebih bisa  memalingkan wajahnya kepada “korporasi bisnis” pasir dan batu kali tersebut.  Tidak hanya memandangnya sebelah mata, tapi justru mendukungnya dan  mengembangkannya menjadi sebuah korporasi bisnis dalam arti yang sebenarnya.  Pasti banyak terdapat kantor-kantor serupa di derah kita, mengingat  sungai-sungai bertebaran di mana-mana. Menghimpun mereka dalam sebuah koperasi  atau bahkan perusahaan penambang pasir dan batu kali, memberi mereka modal yang  lebih besar, mengajarkan keterampilan dan diversifikasi produk hasil tambang  hingga akhirnya bisa menjadikan pasir dan batu kali sebagai komoditas ekspor  unggulan seperti genjringan Kaliwadas. Tak pelak, harapan untuk meningkatkan  taraf kesejahteraan mereka pun bukan lagi isapan jempol belaka.  Mungkinkah?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nave in Gatsub at 130208 14.25 pm </em></p>
<p style="text-align: justify;">Penulis : Evan Rizaldhi<em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/bumiayu/kantor-mewah-di-jalan-lingkar-bumiayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
