Matikan TV-mu!!! Kalimat itu terbaca beberapa hari lalu di sebuah trotoar di Jogja (lupa, dimana). Lengkap dengan gambar TV-nya. Singkat, jelas. Tapi, pasti ada orang yang menolak kata-kata tersebut. “TV beli sendiri, mau diapain ya teserah sendiri!”.
“Ketika televisi mulai masuk kampung kami, ibu-ibu yang dulu mengajari kami mengaji, sekarang sudah sibuk dengan televisi. Bapak-bapak yang dulu mengajadi kami dengan ta’lim muta’allim agar ilmu yang kami dapat benar-benar bermanfaat, sekarang sibuk menghafal jadwal acara televisi. Dan, Manchaser United lebih dekat dengan kehidupan mereka daripada Bidayatul-Mujtahid.” (Fauzil Adhim pada Positive Parenting).
Ya…ya…ya… sudah sejak lama TV telah menginvasi hari-hari kita. Kehadirannya menjadi sangat berarti hampir di setiap rumah di mana pun. Bagaimana tidak, sekeluarga gandrung sekali melototin layar bergambar itu. Nggak usah yang udah berkeluarga, deh, yang masih ngekos saja hampir tiap waktu mainin tombol remote control, ganti-ganti siaran sana sini. “Habis, acaranya bagus-bagus”, “Kan refreshing…penat setelah sibuk seharian”, de el el. Begitu jawab para gandrungers TV ini. Lanjutkan Membaca…