<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Mahasiswa Muslim Bumiayu &#187; Oase</title>
	<atom:link href="http://formmasibumi.com/category/oase/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formmasibumi.com</link>
	<description>&#34;Merenda Cinta Merajut Ukhuwah dalam Manisnya Iman dan Indahnya Islam&#34;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jun 2010 06:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mereka Memanfaatkan Waktu Demi Ilmu</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Waktu ibarat pedang dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan pedang, maka pedang yang akan melibas kita. Demikian juga waktu, jika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ia yang akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati terhadap waktu, terlebih lagi jika kita memiliki waktu luang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua keni’matan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu ibarat pedang dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan pedang, maka pedang yang akan melibas kita. Demikian juga waktu, jika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ia yang akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati terhadap waktu, terlebih lagi jika kita memiliki waktu luang. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wa Sallam</em> bersabda: “Ada dua keni’matan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya yaitu ni’mat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori). Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al Ashr ayat 1-2: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian..” Kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari hal yang sia-sia, yang membuat kita merugi dunia akhirat. <em>Na’uudzubillaahi min dzaalik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sudaraku, kita sering merasakan waktu begitu cepat berlalu, padahal belum banyak yang telah kita lakukan. Waktu yang tersedia antara kita dan orang lain sama, 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Tak dapat dipungkiri kalau kita sering berfikir, mengapa orang lain dengan tingkat kesibukan yang melebihi kita ternyata mampu berbuat lebih banyak dibandingkan dengan kita. Bahkan mereka memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada kita, dan ia lebih berhasil daripada kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berinterospeksi diri, apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki dan apakah kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang lain dan diri kita sendiri. Sudahkah kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?</p>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku, mungkin kita perlu bersama-sama belajar dari para generasi <em>Salafusshalih</em> yang sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Lihatlah bagaimana mereka tidak membuang sedikitpun waktu melainkan untuk hal yang bermanfaat, yakni menuntut ilmu.<br />
<strong>Amir bin Abdi Qais</strong><br />
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku.” Amin bin Abdi Qais menjawab:” Tahanlah matahari.” Artinya,” Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, <span id="more-270"></span>dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya.”<br />
Al Mubarrid berkata: Saya tidak pernah mengetahui orang yang lebih bersemangat terhadap ilmu melebihi tiga orang: Al Jahiz,Al Fath bin Khalqan, dan Ismail bin Ishak Al Qadli.<br />
<strong>Al Jahiz</strong><br />
Bila ada kitab di tangannya, beliau membacanya dari awal sampai akhirnya. Beliau menyewa took warraqin (orang-orang yang menulis ulang kitab, dan tokonya disebut toko buku sekarang). Beliau bermalam di sana untuk membaca semua kitab itu.<!--more--><br />
<strong>Al Fath bin Khalqan</strong><br />
Belaiu membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk sholat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tampat yang ingin ditujunya. Beliau melakukan hal tersebut ketika kembali dari keprluannya.<br />
<strong>Ismail bin Ishaq Al Qadli</strong><br />
Saya tidak pernah menemuinya, kecuali di tangannya ada buku yang dibaca. Atau, beliau membongkar buku-buku untuk mencari buku yang akan beliau baca.<br />
Abu Bakar Khayyath An-Nahwi menggunakan seluruh waktunya untuk membaca. Bahkan ketika berjalan, terkadang ia terjatuh di lubang atau ditabrak binatang di jalan karena tenggelam dalam bacannya.<br />
<strong>Ibnu Uqail</strong> menceritakan ketekunannya dalam membaca dan meraih ilmu. Beliau berkata: Sesungguhnya tidak halal bagi saya untuk menyia-nyiakan sesaat pun dari waktuku tanpa faedah. Apabila lisan saya terhenti dari belajar, menghafal dan berdiskusi, mata saya terhenti dari membaca buku, maka saya gunakan pikiranku ketiak istirahat. Saya tidak bangun kecuali sudah terlintas dalam benakku apa yang akan saya tulis. Saya merasakan semangat belajar ilmu ketika berusia 80 tahun melebihi semangat yang saya rasakan ketika berusia 20 tahun.<br />
Ibnu Rajab Al Hanbali berkata:<br />
<strong>Imam Majduddin bin Taimiyah</strong> apabila beliau masuk WC untuk buang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “ Bacalah dan angkatlah suaramu! Agar aku bisa mendengarmu dari dalam.” Ibnu rajab menambahkan: Hal itu menunjukkan kuatnya semangat beliau dalam belajar ilmu dan meraihnya serta dalam menjaga waktunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku, jika para <em>Salafusshalih</em> memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu, lalu kita memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk apa? Inilah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan. Saudaraku, marilah kita bersama-sama merenungi hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra. bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wa Sallam</em> bersabda:<br />
“Tidaklah kedua kaki manusia akan tergelincir kelak di hari kiamat, sampai ditanyakan empat aspek; tentang umurnya, untuk apa sajakah dia dihabiskannya; tentang masa mudanya, dalam apa sajakah masa muda itu dihancurkan; tentang hartanya, dari mana dia didapat dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dengannya” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dengan sanad yang shahih). Semoga Allah <em>Subhanahu Wata’ala</em> memberi kemudahan kepada kita dalam memanfaatkan waktu luang untuk hal yang bermanfaat. Amiin.</p>
<p style="text-align: justify;"><ins datetime="2010-03-01T05:21:41+00:00"></ins></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaknai Pergantian Tahun Baru</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/uncategorized/memaknai-pergantian-tahun-baru/</guid>
		<description><![CDATA[
Detik demi detik berjalan, dan detik itu berganti dengan menit dan menit pun berganti dengan jam, bahkan jam menjelma menjadi hari yang terus silih berganti menjadi minggu, minggu manjadi bulan dan akhirnya menggiring kita menuju masa yang kita namai sebagai tahun. Tidak terasa tahun demi tahun terus bergulir, bahkan saat ini pun kita tengah memasuki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><img class="size-full wp-image-15 aligncenter" title="thbr" src="http://formmasibumi.com/wp-content/uploads/th-br1.jpg" alt="thbr" width="128" height="95" /></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Detik demi detik berjalan, dan detik itu berganti dengan menit dan menit pun berganti dengan jam, bahkan jam menjelma menjadi hari yang terus silih berganti menjadi minggu, minggu manjadi bulan dan akhirnya menggiring kita menuju masa yang kita namai sebagai tahun. Tidak terasa tahun demi tahun terus bergulir, bahkan saat ini pun kita tengah memasuki awal tahun baru. Tahun baru 1431 Hijriyah dan tahun baru Masehi 2010. Sebagian besar orang memaknai datangnya tahun baru sebagai awal ‘penampilan’ baru, seperti gaya rambut baru, mode pakaian baru, dan sebagainya, yang semuanya hanya mementingkan aspek jasadiyah semata. Bahkan untuk menyambut tahun baru, mereka mengadakan berbagai acara yang jauh dari nilai-nilai syariat Islam, seperti konser Band yang menimbulkan banyak <em>kemudhorotan</em>, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan tewasnya sejumlah orang dan sebagainya. Tahun baru bukan sekedar untuk euforia dengan menyaksikan gemerlapnya lampu, kembang api, dan berbagai hiburan lain tanpa makna. Lalu bagaimana seharusnya kita memaknai tahun baru ini?<span id="more-175"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Interospeksi Diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Datangnya tahun baru seharusnya kita jadikan sarana bagi kita untuk menginterospeksi diri. Al Fudhail bin Iyadh berkata: “Sesungguhnya hari kemarin adalah contoh pelajaran, hari ini adalah waktu untuk beramal, dan esok adalah cita-cita.” (<em>Siyaru ‘Alam an Nubala</em>, Imam Adz Dzahabi). Oleh karena itu, Kekurangan dan kegagalan apa saja yang telah kita lakukan di tahun yang lalu  kita jadikan pelajaran untuk kita melangkah lebih baik di masa yang akan datang. Kekurangan, kesalahan maupun kegagalan itu kita kaji dan kita perbaiki, dan bukan untuk kita ratapi.  Ibarat Sebotol air susu yang tumpah, walaupun kita menangisinya, meratapinya sampai bengkak mata kita, dan menyakitkan hati kita, namun air susu itu tak akan pernah utuh kembali dan tak akan bisa kita nikmati sebagaimana mestinya. Justeru kita harus segera menyadari dan mengkaji, apa penyebab air susu itu tumpah. Dengan adanya kesadaran dan pengkajian ini, harapannya kita mampu mengantisipasi tumpahnya air susu untuk yang kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Al-Basri mengumpamakan manusia bagaikan kumpulan hari-hari, Setiap hari yang pergi, kita seperti kehilangan bagian dari diri kita. Apa yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Untuk itu, mari kita jadikan datangnya tahun baru sebagai semangat menyambut masa yang akan datang dengan penuh harapan, kita yakin bahwa sehabis gelap akan terbit terang, setelah kesusahan akan datang kemudahan dan kita yakin bahwa pagi pasti akan datang walaupun malam terasa begitu lama dan panjang. Karena roda kehidupan selalu berputar dan tidak mungkin berhenti. Imam Syafi’i pernah berkata: ”Memang sebenarnya zaman itu sungguh menakjubkan, sekali waktu engkau akan mengalami keterpurukan, tetapi pada saat yang lain engkau memperoleh kejayaan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita jadikan peralihan tahun sebagai momen untuk melihat kembali catatan yang mewarnai perjalanan hidup masa lalu, dengan melakukan renungan atas apa yang telah kita perbuat. Kita gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia dan akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa yang paling jauh di dunia ini dari kita adalah masa lalu karena apapun kendaraannya kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Makanya kita harus menjaga hari-hari kita, baik hari ini maupun yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menggapai Impian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan waktu yang terasa begitu singkat membuat kita tidak mampu menggapai semua impian kita di masa yang lalu. Bahkan di masa sekarang pun, kita ternyata juga mempunyai mimpi yang ingin kita wujudkan. Oleh karena itu, kita perlu menulis ulang impian-impian yang belum kita capai dan kita berazam untuk mewujudkan mimpi itu di tahun ini. Kita tentu punya impian, bukan? Nah,. Saatnya kita menunjukkan diri bahwa kita mampu meraih mimpi-mimpi kita. <em>Laa Taiasuu wa laa tahzanuu</em>., janganlah berputus asa dan janganlah bersedih hati.  Allah Swt berfirman: “ <em>Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman</em>.” (Ali Imron: 139). Dengan usaha yang maksimal dari kita, yakinlah bahwa kita pasti akan mampu meraih apa yang kita impikan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Arra’d ayat 11 yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai dengan mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, selain dengan usaha, kita juga harus berdoa kepada Allah swt, memohon pertolongan kepada Allah. Rasulullah mengajarkan kepada ummatnya untuk selalu meminta kepada Allah meskipun untuk hal yang remeh, seperti tali sandal. Beliau pernah berpesan kepada Ibnu Abbas tentang pentingnya bergantung kepada Allah “ Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu butuh pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”(HR. Ahmad). Allah swt menegaskan dalam QS. Al Baqarah ayat 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”</p>
<p style="text-align: justify;">Thoyyib,  marilah kita senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah swt semaksimal mungkin agar segala impian kita dapat terwujud. Dan kita jadikan tahun baru sebagai awal lahirnya semangat baru, yakni semangat untuk menggapai segala impian dan harapan, dan semangat untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Hari &#8216;Arafah</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 00:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram yang paling terkenal dan termasuk juga merupakan bulan haji yang telah kita kenal. Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah adalah seutama-utama hari sepanjang tahun, sebagaimana dituturkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Abas r.a., Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari amal saleh yang terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="onta" src="http://formmasibumi.com/wp-content/uploads/onta.jpg" alt="onta" width="131" height="98" /><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram yang paling terkenal dan termasuk juga merupakan bulan haji yang telah kita kenal. Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah adalah seutama-utama hari sepanjang tahun, sebagaimana dituturkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Abas r.a., Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</em> bersabda: “Tidak ada hari-hari amal saleh yang terdapat di dalamnya yang lebih dicintai Allah selain hari-hari ini, yaitu hari-hari yang sepuluh.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sesuatu pun darinya.”(HR Bukhori, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Puasa di hari-hari yang sepuluh pada bulan Dzulhijjah ini merupakan <span id="more-164"></span>seagung-agung sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu Wata’ala </em>(kecuali hari kesepuluh-hari Ied-haram berpuasa ). Diantara yang sepuluh ini, yang paling utama adalah hari kesembilan, hari Arafah, yaitu hari ketika para jama’ah haji wuquf dalam keadaan kusut masai dengan pakaian ihram, untuk menyambut secara total seruan Allah dengan penuh ketundukan.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Hari Arafah jatuh pada tanggal sembilan di bulan Dzulhijjah. Dinamakan demikian, karena pada malam <em>tarwiyah</em> Ibrahim <em>‘Alaihissalam</em> pernah diperintahkan di dalam tidurnya untuk menyembelih puteranya, Ismail. Sehingga pada hari itu ia menjadi bimbang, apakah mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah atau hanya sekedar mimpi. Lalu pada malam berikutnya Ibrahim ternyata juga diperintahkan hal yang sama dalam tidurnya, sehingga ia pun <em>‘arofa</em> (mengetahui, meyakini), bahwa perintah tersebut berasal dari Allah <em>Subhanahu Wata’ala</em>. Untuk itu, disebutlah hari tersebut sebagai hari Arafah, yaitu hari yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang sangat besar.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Di hari Arafah ini, kita sangat dianjurkan untuk berpuasa. Nabi pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, Beliau bersabda: “menghapuskan dosa tahun yang lalu dan yang masih tersisa.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain dijelaskan pula bahwa: “Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Adapun puasa Asyura’ dapat menghapuskan dosa selama satu tahun yang telah berlalu.”(HR Muslim).</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Bagi yang mampu berpuasa, marilah kita tunaikan puasa hari &#8216;Arafah, 9 Dzulhijjah 1430H, atau bertepatan dengan hari Kamis, 26 November 2009.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Maroji’</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Yusuf Qardhawi. 2006. Fiqih Puasa. Surakarta: Era Intermedia.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. 1998. Fiqih Wanita. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Penjual Pulpen</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/kisah-si-penjual-pulpen/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/kisah-si-penjual-pulpen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 09:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Setiap peristiwa yang kita alami pastilah mengandung berjuta hikmah di dalamnya. Orang yang paling beruntung adalah orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya.
Seperti peristiwa yang pernah saya alami ini. Saya berharap, tidak hanya saya pribadi yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, tapi kita semua dapat mengambil hikmah ini.
Peristiwa yang akan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setiap peristiwa yang kita alami pastilah mengandung berjuta hikmah di dalamnya. Orang yang paling beruntung adalah orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti peristiwa yang pernah saya alami ini. Saya berharap, tidak hanya saya pribadi yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, tapi kita semua dapat mengambil hikmah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa yang akan saya ceritakan ini terjadi saat saya kuliah semester 4, tepatnya tahun 2006. Untuk menambah uang saku, saya berdagang dari kos ke kos. Biasanya saya menitipkan makanan ringan (snack) dari kos ke kos yang dekat dengan kos saya. Selain makanan ringan, saya juga menjual pulpen <em>pilot</em> dan <em>standard</em>. Saya membeli secara grosir, sehingga saya bisa menjual dengan harga yang lebih murah dengan tetap mendapat keuntungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sekian lama saya berjualan pulpen, akhirnya teman-teman mengenal saya sebagai penjual pulpen dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Sampai suatu ketika, <span id="more-159"></span>Mei 2006 Jogja terkena bencana alam gempa. Seperti biasanya jika terjadi bencana alam di suatu  tempat, maka lembaga mahasiswa berduyun-duyun melakukan aksi sosial untuk membantu meringankan beban para korban bencana tersebut, baik berupa pemberian sembako, pakaian pantas pakai maupun peralatan sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan salah satu lembaga mahasiswa yang ada di fakultas saya, Badan Eksekutif Mahasiswa, melakukan aksi sosial dengan memberikan peralatan sekolah bagi anak-anak korban bencana alam yang ada di daerah Gantiwarno Klaten yang terkena bencana alam berbarengan dengan gempa Jogja. Karena saya cukup dikenal sebagai penjual pulpen di kalangan tertentu, teman saya yang kebetulan menjadi panitia bakti sosial memesan pulpen kepada saya dalam jumlah yang banyak. Saya tidak langsung menetapkan harga jual pulpen, tetapi saya melakukan perhitungan secara rinci terlebih dahulu agar saya bisa mendapatkan keuntungan dengan harga penjualan yang semurah mungkin. Yach, namanya juga penjual, jadi yang dipikirkan selalu saja keuntungannya..^_^</p>
<p style="text-align: justify;">Saya biasanya membeli pulpen dari pusat grosir untuk tiap lusinnya Rp 6.500,-. Dan saya menjual dengan harga Rp. 800,- untuk tiap satu buah pulpen merk standard. Sehingga saya bisa mendapat keuntungan Rp.3.100,- untuk tiap penjualan satu lusin pulpen standard. Biasanya di toko-toko harga pulpen standard Rp.1000,- tiap buahnya sehingga tidak heran jika banyak teman yang membeli pulpen kepada saya.  Nah, karena ini menyangkut aksi sosial, maka saya berusaha untuk menjual dengan harga rendah tapi tetap masih mendapatkan keuntungan. Saat itu yang ada dalam benak saya hanyalah keuntungan dan keuntungan..^_^ Setelah melakukan kalkulasi dengan berusaha <em>menekan</em> harga jual sedemikian rupa, maka saya menetapkan bahwa untuk harga satu gross pulpen, saya mengambil keuntungan Rp.20.000,-sehingga teman saya harus membayar Rp. 98.000,- untuk satu gross pulpen merk standard.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika teman saya memesan pulpen, stok pulpen tinggal sedikit. Sehingga mau tidak mau saya harus <em>kulakan</em>. Biasanya saya <em>kulak</em> di toko grosir Al Ikhlas yang lokasinya ada di daerah Nonongan Solo. Saat itu saya belum tahu bahwa nama daerah itu adalah Nonongan. Untuk bisa sampai di Nonongan, jalur yang terpendek dan tercepat harus menggunakan bus Surya Kencana E. Itupun menghabiskan waktu sekitar 30an menit untuk bisa sampai di toko tersebut. Maklum, rutenya muter-muter kayak <em>uler</em>..^_^ Kebetulan bus ini juga hanya lewat di depan kampus UNS. Padahal gedung kuliah dan kos saya ada di belakang kampus. Kalau saya harus jalan dari belakang ke depan kampus untuk mencari bus ini, maka ini akan membutuhkan waktu sekitar 15 menitan. Tentu saja ini tambah sangat dan amat tidak efektif, mengingat aktivitas saya pada saat itu cukup padat. Pinjem motor? yach, saya kan ndak bisa motor..^_^ kalau naik motor, saya jagonya..(jago <em>bonceng</em> maksude..^_^), tapi kalau mengendarai motor..eits, tunggu dulu..saya harus banyak-banyak belajar lagi dech..^_^ Sudah bisa ditebak apa yang saya lakukan? Yups, saya minta diantar oleh teman saya. Jujur, saya tidak tahu jalur ke daerah itu (baca:Nonongan) kalau naik motor. Maklum masih baru di Solo..^_^ Pokoknya saya tahu letaknya. Dan dengan ilmu <em>perkayongan</em> (<em>kayonge tah</em>..^_^), saya pede untuk siap memberi petunjuk kepada teman saya..</p>
<p style="text-align: justify;">” Anti sudah tahu tempatnya kan ukh?” tanya teman saya memastikan sambil menghidupkan motor dan siap meluncur dari belakang kampus.</p>
<p style="text-align: justify;">”<em>Insyaallah</em> sudah, <em>ukh</em>. Pokoknya kita lewat jalan besar yang menuju pasar klewer, setelah itu kita belok kanan saja.”jawab saya MANTAP..sementara sepeda motor melaju.</p>
<p style="text-align: justify;">”lho, bukannya kalau belok kanan itu jalan searah?”bingung teman saya dengan jawaban saya tadi selang beberapa lama setelah kami melaju.</p>
<p style="text-align: justify;">”tapi kan kita bisa lewat di pinggir jalan sebelah kiri..”sanggah saya dengan pedenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeda motor sudah sampai di <em>bangjo</em> perempatan Pedaringan, sekitar 1 kilo dari kampus.</p>
<p style="text-align: justify;">”lha emang tokonya ada di sebelah mananya <em>ukh</em>?”tanya teman saya lagi</p>
<p style="text-align: justify;">”ya di daerah belokan kanan itu..”jawab saya mulai ragu..</p>
<p style="text-align: justify;">”oh ya sudah..”jawab teman saya pasrah..</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeda motor melaju di jalan Urip Sumoharjo depan RS. Moewardi, lalu sampai di perempatan Panggung, kami belok ke kiri terus melaju menuju pasar Gedhe, kemudian kami dengan kecepatan yang sedang belok ke kanan melintasi jembatan kecil. Selanjutnya  membelok ke kiri ke arah pasar Klewer. Di depan gerbang pasar Klewer ada bundaran yang biasa dikenal dengan bundaran Gladak. Lalu kami belok ke kanan, kemudian melaju melalui jalan <em>tikus</em> yang ada di tepi jalan raya. Lho, kok ndak ada motor yang melaju di jalan tikus ini ya?bathin saya saat itu. Saat itu saya dihinggapi kekhawatiran, bukan karena melaju di jalan tikus ini, tapi karena beberapa kali sempat mau menabrak orang yang lalu lalang di jalan ini. Maklumlah, tepat di sebelah kiri jalan ini adalah kompleks pertokoan, terutama toko-toko bunga. Sepeda motor kami terus melaju dengan kecepatan cukup rendah. <em>Bangjo</em> di perempatan jalan raya sudah kelihatan, kita cukup belok ke kiri dari <em>bangjo</em> sekitar 50 meter kita akan sampai di toko Al Ikhlas.</p>
<p style="text-align: justify;">” Priit..!” <em>Oh My God</em>, kami ditilang. Kami tidak sadar bahwa di perempatan <em>bangjo</em> itu ada pos polisi.</p>
<p style="text-align: justify;">” mau kemana mbak?!”tanya polisi tegas</p>
<p style="text-align: justify;">”mau ke toko Al Ikhlas Pak, letaknya di daerah situ” jawab saya terbata-bata sambil menunjuk tempat yang saya maksud.</p>
<p style="text-align: justify;">”Kalian tahu, ini jalan searah??”tanya polisi itu lagi</p>
<p style="text-align: justify;">”Kami tahu Pak, tapi kan kami tidak lewat di jalan raya.”bela saya penuh kekhawatiran</p>
<p style="text-align: justify;">Pak polisi terus menginterogasi, dan pada akhirnya kami disuruh masuk ke Pos Polisi. Di dalam Pos itu kami dimintai keterangan terkait identitas pribadi dan denda/sanksi yang harus kami bayar atas kelalaian kami. Antara saya dan pak Polisi terjadi tawar menawar tentang besarnya denda yang harus kami bayar. Pak Polisi menyuruh kami membayar Rp.50.000,-. Jumlah yang cukup besar bagi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Kami <em>kan</em> mahasiswa Pak, masih baru lagi, jadi belum tahu daerah sini. <em>Mosok</em> kami harus bayar Rp.50.000,-?” rayu saya saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan berbagai argumen yang tidak terlalu <em>alot</em>, akhirnya kami hanya membayar Rp.20.000,-. Karena saya yang mengajak teman saya, maka saya <em>lah</em> yang bertanggung jawab membayarnya. Ya., DUA PULUH RIBU, jumlah uang yang sama dengan keuntungan yang akan saya dapatkan dari hasil penjualan pulpen..Saat itu saya tersadar, sungguh saya memang tidak boleh mengambil keuntungan di saat orang lain sedang susah. Sungguh saya tidak boleh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan&#8230; Hmm, di sisi lain, saya juga berpikir sebenarnya uang yang para polisi dapatkan dari hasil tilang masuk kemana ya?? Lawonk besarnya denda saja bisa ditawar-tawar begitu.. kalau memang benar-benar masuk ke negara, seharusnya besarnya denda/sanksi sesuai dengan peraturan yang sudah ada dan tidak boleh ditawar-tawar walaupun rayuan para pelanggar lalu lintas begitu dahsyatnya..Ups, kok malah jadi mikir ngalor ngidul..^_^</p>
<p style="text-align: justify;">”<em>Ukh</em>, <em>afwan</em> yach, <em>anti</em> jadi tidak mendapatkan keuntungan gara-gara kena tilang..” sesal teman saya setelah kami berbelanja pulpen di toko Al Ikhlas sambil siap-siap melaju.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ndak papa <em>ukh</em>, mungkin belum rejekiku, anggap saja uang tadi untuk amal jariyah..”kata saya enteng sambil tersenyum malu menaiki motor. ^_^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/kisah-si-penjual-pulpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memburu Pintu Royyan di Bulan Syawal</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/memburu-pintu-royyan-di-bulan-syawal/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/memburu-pintu-royyan-di-bulan-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 10:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Sobat, tatkala takbir bergema di malam Hari Raya, maka selesailah sudah sebulan berpuasa. Tidak terasa kita telah memasuki bulan Syawal. Datangnya syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menunaikan ibadah puasa sepanjang Ramadhan, ia merupakan lambang kemenangan umat Islam, hasil dari ‘peperangan’ melawan musuh dalam jiwa yang terbesar yaitu hawa nafsu.
Hakikat Hari Raya 
Hari Raya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sobat, tatkala takbir bergema di malam Hari Raya, maka selesailah sudah sebulan berpuasa. Tidak terasa kita telah memasuki bulan Syawal. Datangnya syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menunaikan ibadah puasa sepanjang Ramadhan, ia merupakan lambang kemenangan umat Islam, hasil dari ‘peperangan’ melawan musuh dalam jiwa yang terbesar yaitu hawa nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hakikat Hari Raya </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap orang yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. Karena itu, kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. <span id="more-152"></span><!--more-->1 Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, setelah sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. Kita harus mengendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah kita dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti dalam suasana Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Raya adalah hari bagi umat Islam melaksanakan konsep Idul Fitri yang dimaksudkan kembali ke fitrah. Dengan tibanya Idul Fitri, umat Islam seolah-olah baru kembali dengan hati dan jiwa yang bersih. Bayangkanlah keadaan umat islam saat itu, keadaan baru kembali seperti sehelai kain putih bersih dan suci dari segala kotoran. Inilah keberhasilan dan kegembiraan bagi mereka yang berjuang mendapatkan keridhaan Allah. Fitrah tersebut haruslah dipelihara. Kesuciannya jangan sampai tercemari, tetapi harus dijadikan dorongan untuk meneruskan perjuangan dalam melaksanakan ibadah dan meraih pahala lebih besar pada bulan-bulan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Amalan-Amalan di Bulan Syawal</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, datangnya Syawal menandakan tibanya satu lagi peluang besar bagi umat Islam untuk melipatgandakan pahala yang diraih sebelumnya melalui amalan-amalan yang bisa dikerjakan. Ada beberapa amalan yang dapat dilaksanakan di Bulan Syawal diantaranya:</p>
<p style="text-align: justify;">1.Bertakbir mengagungkan kebesaran Allah</p>
<p style="text-align: justify;">Allah swt dalam surat An Nashr mengingatkan bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid, tahlil dan istighfar. <em>Fasbbih bihamdika wastaghfir. innahuu kaana tawwaabaa.</em></p>
<p style="text-align: justify;">2.Puasa enam hari di bulan Syawal</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, <em>“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”</em> (HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”</em> (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam <em>Irwa’ul Gholil</em>). Imam Nawawi <em>rohimahulloh</em> mengatakan dalam <em>Syarh Shohih Muslim</em> 8/138).</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits tersebut menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan di bulan Syawal adalah peluang berharga untuk mengejar nikmat dan kemurahan Allah sepanjang hidup yaitu puasa enam hari. Sungguh sangat beruntung sekali jika kita dapat melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Ini sungguh keutamaan yang luar biasa, Sobat. Marilah kita melaksanakan puasa tersebut demi mengharapkan rahmat dan ampunan Allah <em>Subhanahu Wata’ala</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">3.Menjaga Sholat Malam</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat Bila, Sholat malam adalah sebaik-baik sholat setelah sholat wajib. Dari Abu Hurairah Rosulullah SAW bersabda:” Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram-. Sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam. (HR.Muslim no 1163)</p>
<p style="text-align: justify;">4.Amalan yang kontinyu (ajeg), amalan yang paling dicintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Rosulullah SAW bersabda: “ bebanilah diri kalian dengan amal sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinyu (ajeg) walaupun sedikit.”( HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Syaikh Al Bani dalam Shohihul Jami’ no. 1228 mengatakan hadits ini Shohih).</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, Bulan Syawal berarti bulan peningkatan amal kebaikan dan ketaatan. Marilah kita tegaskan kembali dan melaksanakan komitmen kita saat menjalankan amaliyah ibadah Ramadhan, yakni komitmen untuk menjadi insan baru, insan bertaqwa dan pemburu pintu Royyan. Semoga kita menjadi insan yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya. Amiin. <em>Allahuta’ala ’alam bishshowaab</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya, <em>Taqobbalallahu Minna Wa Minkum, Ja&#8217;alanallahu Wa Iyyaakum Shiyaamanaa Wa Shiyaamakum Minal &#8216;Aidin Wal Faizin</em>,  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H,  Mohon Maaf Lahir dan Batin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/memburu-pintu-royyan-di-bulan-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
