<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Mahasiswa Muslim Bumiayu &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://formmasibumi.com/category/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formmasibumi.com</link>
	<description>&#34;Merenda Cinta Merajut Ukhuwah dalam Manisnya Iman dan Indahnya Islam&#34;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jun 2010 06:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Ramadhan ‘Kan Datang</title>
		<link>http://formmasibumi.com/ramadhan/128/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/ramadhan/128/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 03:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>meizar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah perasaan kita jika ada seorang tamu yang kita cintai dan rindukan memberitahu, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama kita selama beberapa hari, apa yang akan kita lakukan? Tidak diragukan lagi, kita akan senang dan berbahagia, kemudian kita akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin kita akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagaimanakah perasaan kita jika ada seorang tamu yang kita cintai dan rindukan memberitahu, bahwa ia akan datang dan tinggal bersama kita selama beberapa hari, apa yang akan kita lakukan? Tidak diragukan lagi, kita akan senang dan berbahagia, kemudian kita akan bersiap-siap menyambut kunjungan itu dan sedapat mungkin kita akan merapikan diri, membersihkan rumah dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam rangka kunjungan itu. Bukankah demikian? Jawabannya adalah, &#8220;Tentu!&#8221; Dan, bagaimana jika tamu itu bukan saja kita cintai, akan tetapi juga dicintai Allah, Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini selama tinggal bersama kita antara siang dan malamnya membawa kebaikan dan keberkahan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tamu yang dimaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang mulia, bulan al-Qur&#8217;an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Bulan saat amal kebaikan dilipatgandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya, &#8220;Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.&#8221; (QS. asy-Syams: 9).<span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana Umat Islam Umumnya Menyambut Bulan Ramadhan</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya, &#8220;Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.&#8221; (QS.al-An&#8217;am: 116).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita perhatikan kondisi umat Islam, maka kita akan mendapatkan keaneka- ragaman cara di kalangan umat Islam saat menyambut bulan Ramadhan, yang rata-rata menyimpang dari syari&#8217;at Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, lagu-lagu atau nyanyian bermusik. Ada yang menyambutnya dengan acara begadang disertai pemutaran film-film, sinetron-sinetron atau drama yang di dalamnya terdapat tabarruj (pamer aurat) dan perbuatan-perbuatan maksiat. Juga ada yang menyambutnya dengan pertemuan-pertemuan bersama para musisi dan artis kemudian menampilkan apa yang mereka lakukan dalam menyambut bulan kebaikan dan berkah ini. Di antara mereka pun ada yang menyambutnya dengan mengadakan berbagai acara lomba Ramadhan yang kurang bernilai mendidik, atau acara-acara lainnya yang mengesampingkan amal ketaatan. Padahal, seharusnya tidaklah demikian. Tidaklah menyambut Ramadhan itu dengan perbuatan maksiat atau perbuatan yang tidak bermanfaat. Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, &#8220;Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga&#8221;. (HR. Ahmad dan terdapat dalam Shahih Al Jami&#8217; No. 3490). Sudah seharusnya Ramadhan disambut dengan taubat, beramal shalih dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan hati, lisan dan amal perbuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menyambut bulan yang mulia ini, ada beberapa butir penting yang bisa kita amalkan. Mau tahu apa aja? Kita simak beberapa poin berikut ini yuk!</p>
<p style="text-align: justify;">Berdo&#8217;a, semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memperpanjang umur kita sampai pada bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum salaf (terdahulu), begitu pula memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala pertolongan dan kekuatan dalam menunaikan shaum, qiyamullail dan beramal shalih di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya, &#8220;Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan.&#8221; (QS. al-Fatihah: 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Kebersihan dan kesucian, maksudnya adalah kebersihan ma&#8217;nawi yaitu taubat yang tulus dan sebenar-benarnya dari segala dosa dan maksiat. Bagaimana mungkin seseorang menunaikan shaum sedangkan dia berbuka dengan sesuatu yang haram, atau meninggalkan shalat, atau durhaka kepada kedua orang tua? Dan lagi, bagaimana kita menginginkan shaum yang diterima dan bermanfaat, sedangkan kita berada dalam keadaan melakukan dosa ini dan itu? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya, &#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum.&#8221; (HR. al-Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, yuk, kita bertaubat dengan taubat yang tulus dan sebenar-benar taubat, sebab pintu taubat masih terbuka. Dan taubat itu bukan sekedar meninggalkan perbuatan dosa, akan tetapi dengan mengembalikan hati dan hawa nafsu kepada Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib, sebagaimana firman-Nya, yang artinya, &#8220;Maka kembalilah kepada Allah.&#8221; (QS. adz-Dzariat: 50).</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara persiapan jiwa dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, hendaknya kita dengan sepenuh hati melakukan shaum sebaik-baiknya dan beramal shalih pada bulan Sya&#8217;ban. Sebab pada bulan Sya&#8217;ban ini segala amal perbuatan diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid Radhiyallahu &#8216;anhu, yang artinya, &#8220;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shaum sepanjang bulan Sya&#8217;ban atau melakukan shaum pada bulan itu kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara masalah penting lainnya adalah bertafaqquh (memahami) hukum-hukum shaum dan mengenal petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum memasuki shaum; mempelajari syarat-syarat shaum, syarat sahnya, yang membatalkannya, hukum shaum pada hari yang diragukan, apa yang boleh, wajib atau haram dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan shaum, apa etika dan sunnah-sunnahnya, hukum-hukum qiyamullail, berapa bilangan raka&#8217;atnya, hukum-hukum shaum bagi yang berhalangan baik karena safar (bepergian) atau sakit, hukum zakat fitrah dan lain sebagainya. Begitu pula mengenai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan Ramadhan yang bertalian dengan diri beliau, shaumnya, qiyamullailnya, kemurahan hatinya, pemeliharaan dirinya serta keteladanan beliau dalam bertadarrus al-Qur&#8217;an, juga yang berkaitan dengan keluarga dan umatnya. Sebab segala sesuatu harus didahului dengan ilmu dan pemahaman sebelum mengamalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mempersiapkan acara-acara menyambut &#8220;tamu agung&#8221;, di antaranya dengan membaca al-Qur&#8217;an, mempelajarinya kemudian menghafalnya, qiyamullail, memberi buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa, melakukan umrah, i&#8217;tikaf, dan berlomba dalam kebaikan dengan semangat fastabiqul khairat, shadaqah, dzikir, penyucian jiwa dan lain-lain. Kita berdo&#8217;a semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berkenan memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar dapat beramal shalih pada bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Allah, pertemukan kami dengan bulan Ramadhan dan berilah kami pertolongan untuk dapat menunaikan shiyam, qiyam, dan amal shalih di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya. Teguhkanlah kami pada ketaatan sampai kami menemui-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan segala do&#8217;a.&#8221; Amin ya Rabbal ‘alamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Nasyarah,”Kaifa nastaqbilu Ramadhan” oleh Abu Mush&#8217;ab Riyadh bin Abdur Rahman al-Haqiil dalam artikel www.al-shofwah.or.id, dengan dibahasakan ulang [Evan Rizaldhi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/ramadhan/128/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
