<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Mahasiswa Muslim Bumiayu</title>
	<atom:link href="http://formmasibumi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formmasibumi.com</link>
	<description>&#34;Merenda Cinta Merajut Ukhuwah dalam Manisnya Iman dan Indahnya Islam&#34;</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2010 05:39:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mereka Memanfaatkan Waktu Demi Ilmu</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Waktu ibarat pedang dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan pedang, maka pedang yang akan melibas kita. Demikian juga waktu, jika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ia yang akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati terhadap waktu, terlebih lagi jika kita memiliki waktu luang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua keni’matan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu ibarat pedang dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan pedang, maka pedang yang akan melibas kita. Demikian juga waktu, jika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ia yang akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati terhadap waktu, terlebih lagi jika kita memiliki waktu luang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua keni’matan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya yaitu ni’mat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori). Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al Ashr ayat 1-2: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian..” Kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari hal yang sia-sia, yang membuat kita merugi dunia akhirat. Na’uudzubillaahi min dzaalik.</p>
<p>Sudaraku, kita sering merasakan waktu begitu cepat berlalu, padahal belum banyak yang telah kita lakukan. Waktu yang tersedia antara kita dan orang lain sama, 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Tak dapat dipungkiri kalau kita sering berfikir, mengapa orang lain dengan tingkat kesibukan yang melebihi kita ternyata mampu berbuat lebih banyak dibandingkan dengan kita. Bahkan mereka memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada kita, dan ia lebih berhasil daripada kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berinterospeksi diri, apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki dan apakah kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang lain dan diri kita sendiri. Sudahkah kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? </p>
<p>Saudaraku, mungkin kita perlu bersama-sama belajar dari para generasi Salafushalih yang sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Lihatlah bagaimana mereka tidak membuang sedikitpun waktu melainkan untuk hal yang bermanfaat, yakni menuntut ilmu.<br />
Amir bin Abdi Qais<br />
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku.” Amin bin Abdi Qais menjawab:” Tahanlah matahari.” Artinya,” Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya.”<br />
Al Mubarrid berkata: Saya tidak pernah mengetahui orang yang lebih bersemangat terhadap ilmu melebihi tiga orang: Al Jahiz,Al Fath bin Khalqan,<br />
Al Jahiz<br />
Bila ada kitab di tangannya, beliau membacanya dari awal sampai akhirnya. Beliau menyewa took warraqin (orang-orang yang menulis ulang kitab, dan tokonya disebut toko buku sekarang). Beliau bermalam di sana untuk membaca semua kitab itu.<br />
Al Fath bin Khalqan dan Ismail bin Ishaq Al Qadli.<br />
Belaiu membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk sholat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tampat yang ingin ditujunya. Beliau melakukan hal tersebut ketika kembali dari keprluannya.<br />
Ismail bin Ishaq Al Qadli<br />
Saya tidak pernah menemuinya, kecuali di tangannya ada buku yang dibaca. Atau, beliau membongkar buku-buku untuk mencari buku yang akan beliau baca.<br />
Abu Bakar Khayyath An-Nahwi menggunakan seluruh waktunya untuk membaca. Bahkan ketika berjalan, terkadang ia terjatuh di lubang atau ditabrak binatang di jalan karena tenggelam dalam bacannya.<br />
Ibnu Uqail menceritakan ketekunannya dalam membaca dan meraih ilmu. Beliau berkata: Sesungguhnya tidak halal bagi saya untuk menyia-nyiakan sesaat pun dari waktuku tanpa faedah. Apabila lisan saya terhenti dari belajar, menghafal dan berdiskusi, mata saya terhenti dari membaca buku, maka saya gunakan pikiranku ketiak istirahat. Saya tidak bangun kecuali sudah terlintas dalam benakku apa yang akan saya tulis. Saya merasakan semangat belajar ilmu ketika berusia 80 tahun melebihi semangat yang saya rasakan ketika berusia 20 tahun.<br />
Ibnu Rajab Al Hanbali berkata:<br />
Imam Majduddin bin Taimiyah apabila beliau masuk WC untuk buang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “ Bacalah dan angkatlah suaramu! Agar aku bisa mendengarmu dari dalam.” Ibnu rajab menambahkan: Hal itu menunjukkan kuatnya semangat beliau dalam belajar ilmu dan meraihnya serta dalam menjaga waktunya.</p>
<p>Saudaraku, jika para Salafusshalih memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu, lalu kita memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk apa? Inilah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan. Saudaraku, marilah kita bersama-sama merenungi hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra. bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:<br />
“Tidaklah kedua kaki manusia akan tergelincir kelak di hari kiamat, sampai ditanyakan empat aspek; tentang umurnya, untuk apa sajakah dia dihabiskannya; tentang masa mudanya, dalam apa sajakah masa muda itu dihancurkan; tentang hartanya, dari mana dia didapat dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dengannya” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dengan sanad yang shahih). Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberi kemudahan kepada kita dalam memanfaatkan waktu luang untuk hal yang bermanfaat. Amiin.</p>
<p><ins datetime="2010-03-01T05:21:41+00:00"></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/mereka-memanfaatkan-waktu-demi-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Teman Istimewa</title>
		<link>http://formmasibumi.com/uncategorized/tiga-teman-istimewa/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/uncategorized/tiga-teman-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 04:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Ubaid bin Umair berkata, “ada seorang teman yang memiliki tiga teman istimewa. Sebagian dianggap lebih istimewa dari yang lain. Suatu kali ia tertimpa suatu masalah. Ia pun mendatangi teman pertamanya yang paling istimewa lalu berkata, “wahai fulan, saya sedang menghadapi masalah, aku ingin kamu bisa membantuku.” Teman pertama itu berkata, “aku tidak bisa membantumu” iapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ubaid bin Umair berkata, “ada seorang teman yang memiliki tiga teman istimewa. Sebagian dianggap lebih istimewa dari yang lain. Suatu kali ia tertimpa suatu masalah. Ia pun mendatangi teman pertamanya yang paling istimewa lalu berkata, “wahai fulan, saya sedang menghadapi masalah, aku ingin kamu bisa membantuku.” Teman pertama itu berkata, “aku tidak bisa membantumu” iapun beranjak menuju temannya ke dua yang dia istimewakan setelah teman pertama, lalu ia berkata” wahai fulan , aku sedang menghadapi masalah, aku ingin agar kamu sudi membantu.” Teman keduanya menjawab, “baiklah, aku akan mengantarmu ketempat tujuan, tapi setelah itu aku akan pulang meninggalkanmu.” Orang itupun mendatangi temannya yang ketiga, lalu berkata, “wahai fulan, aku sedang menghadapi masalah, aku berharap kamu bisa membantuku.” Teman ketiganyamenjawab, “Baik, aku akan menemanimu kemanapun engkau pergi, dan akan ikut masuk kemanapun engkau pergi, dan akan ikut masuk kemanapun kamu masuk”</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Kemudian Ubaid berkata, “Teman pertama adalah perumpamaan bagi harta yang dimiliki seseorang, yang sama sekali tidak mengikutinya saat ia mati. Teman kedua adalah keluarga dan kerabatnya, yang hanya mengantar sampaikuburnya, lalu pulang meninggalkannya. Sedang teman ketiganya adalah amalannya, yang akan selalu menyertainya kemanapun ia pergi dan kemanapun ia masuk.”</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> (Hilyatul Aulia, Abu Nu’aim al- Ashbahani 2/16)<span id="more-267"></span></strong></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Div. Jarkom</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/uncategorized/tiga-teman-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panjang Jari Tangan Menentukan Kecerdasan?</title>
		<link>http://formmasibumi.com/lain/panjang-jari-tangan-menentukan-kecerdasan/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/lain/panjang-jari-tangan-menentukan-kecerdasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 09:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Menentukan seseorang itu cerdas atau tidak tanpa menguji kemampuan otaknya, memang tak mudah. Apalagi jika hanya mengandalkan tampilan fisik, seringnya kita mendapatkan fakta yang berseberangan. Seseorang dengan tampilan fisik menarik tak berkorelasi positif dengan kemampuan otaknya yang cerdas. Demikian pula sebaliknya. Meski demikian, berdasarkan hasil penelitian ada bagian tubuh manusia yang bisa digunakan untuk mengungkapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menentukan seseorang itu cerdas atau tidak tanpa menguji kemampuan otaknya, memang tak mudah. Apalagi jika hanya mengandalkan tampilan fisik, seringnya kita mendapatkan fakta yang berseberangan. Seseorang dengan tampilan fisik menarik tak berkorelasi positif dengan kemampuan otaknya yang cerdas. Demikian pula sebaliknya. Meski demikian, berdasarkan hasil penelitian ada bagian tubuh manusia yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kecerdasan seseorang. Mau tahu? Mau3x…..^_^<span id="more-259"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mark Bosnan salah seorang peneliti dari Universitas Bath, mengungkapkan bahwa kecerdasan seseorang dapat dilihat dari perbandingan panjang jari manis dan jari telunjuknya. Seorang anak yang memiliki jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan matematika yang lebih tinggi daripada kemampuan verbal dan bahasa. Jika perbandingan sebaliknya, anak umumnya memiliki kemampuan verbal seperti menulis dan membaca lebih baik dibandingkan matematika. Panjang jari-jari tangan merefleksikan perkembangan bagian-bagian otak. Yuk, kita mulai intip jari-jari kita. Satu..dua..tiga…!! Yups. Bagaimana hasilnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa pertumbuhan jari-jari tangan manusia berbeda-beda tergantung kadar hormon testosteron  dan estrogen di dalam rahim saat bayi dikandung ibunya. Kadar testosteron yang tinggi diyakini mendukung perkembangan bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan matematika dan pandang ruang. Hormon itu pula yang menyebabkan panjang jari manis tumbuh lebih panjang. Estrogen juga mendorong efek yang sama pada bagian otak, namun yang berhubungan dengan kemampuan verbal. Hormon ini mendukung pertumbuhan jari telunjuk, sehingga lebih panjang dari jari manis.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menguji hubungan kecerdasan dengan rasio panjang jari tangan, Brosnan dan koleganya membandingkan hasil tes scholastic (SAT), semacam psikotes, kepada calon siswa yang mendaftar sekolah dengan panjang cap jari setiap siswa yang telah diminta sebelumnya. Mereka mengukur panjang jari-jari secara teliti menggunakan jangka sorong yang memiliki tingkat ketelitian 0,01 mm. Kemudian, rasio panjang jari digunakan untuk memperkirakan kadar testosteron dan estrogen.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil tes siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Mereka menemukan hubungan yang jelas antara tingginya paparan testosteron -terlihat dari panjang jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk- dengan nilai uji matematika yang tinggi. Juga tingginya paparan estrogen dengan kemampuan bahasa dan verbal pada sebagian besar anak perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, kalau seperti ini, tes seleksi masuk sekolahnya cukup nunjukin jari-jari saja kali ya. Jadi bisa hemat waktu..piiz..^_^</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
Disarikan dari buku Matematika SMK Teknik kelas X hal 61.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/lain/panjang-jari-tangan-menentukan-kecerdasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaknai Pergantian Tahun Baru</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/uncategorized/memaknai-pergantian-tahun-baru/</guid>
		<description><![CDATA[
Detik demi detik berjalan, dan detik itu berganti dengan menit dan menit pun berganti dengan jam, bahkan jam menjelma menjadi hari yang terus silih berganti menjadi minggu, minggu manjadi bulan dan akhirnya menggiring kita menuju masa yang kita namai sebagai tahun. Tidak terasa tahun demi tahun terus bergulir, bahkan saat ini pun kita tengah memasuki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><img class="size-full wp-image-15 aligncenter" title="thbr" src="http://formmasibumi.com/wp-content/uploads/th-br1.jpg" alt="thbr" width="128" height="95" /></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Detik demi detik berjalan, dan detik itu berganti dengan menit dan menit pun berganti dengan jam, bahkan jam menjelma menjadi hari yang terus silih berganti menjadi minggu, minggu manjadi bulan dan akhirnya menggiring kita menuju masa yang kita namai sebagai tahun. Tidak terasa tahun demi tahun terus bergulir, bahkan saat ini pun kita tengah memasuki awal tahun baru. Tahun baru 1431 Hijriyah dan tahun baru Masehi 2010. Sebagian besar orang memaknai datangnya tahun baru sebagai awal ‘penampilan’ baru, seperti gaya rambut baru, mode pakaian baru, dan sebagainya, yang semuanya hanya mementingkan aspek jasadiyah semata. Bahkan untuk menyambut tahun baru, mereka mengadakan berbagai acara yang jauh dari nilai-nilai syariat Islam, seperti konser Band yang menimbulkan banyak <em>kemudhorotan</em>, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan tewasnya sejumlah orang dan sebagainya. Tahun baru bukan sekedar untuk euforia dengan menyaksikan gemerlapnya lampu, kembang api, dan berbagai hiburan lain tanpa makna. Lalu bagaimana seharusnya kita memaknai tahun baru ini?<span id="more-175"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Interospeksi Diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Datangnya tahun baru seharusnya kita jadikan sarana bagi kita untuk menginterospeksi diri. Al Fudhail bin Iyadh berkata: “Sesungguhnya hari kemarin adalah contoh pelajaran, hari ini adalah waktu untuk beramal, dan esok adalah cita-cita.” (<em>Siyaru ‘Alam an Nubala</em>, Imam Adz Dzahabi). Oleh karena itu, Kekurangan dan kegagalan apa saja yang telah kita lakukan di tahun yang lalu  kita jadikan pelajaran untuk kita melangkah lebih baik di masa yang akan datang. Kekurangan, kesalahan maupun kegagalan itu kita kaji dan kita perbaiki, dan bukan untuk kita ratapi.  Ibarat Sebotol air susu yang tumpah, walaupun kita menangisinya, meratapinya sampai bengkak mata kita, dan menyakitkan hati kita, namun air susu itu tak akan pernah utuh kembali dan tak akan bisa kita nikmati sebagaimana mestinya. Justeru kita harus segera menyadari dan mengkaji, apa penyebab air susu itu tumpah. Dengan adanya kesadaran dan pengkajian ini, harapannya kita mampu mengantisipasi tumpahnya air susu untuk yang kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Al-Basri mengumpamakan manusia bagaikan kumpulan hari-hari, Setiap hari yang pergi, kita seperti kehilangan bagian dari diri kita. Apa yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Untuk itu, mari kita jadikan datangnya tahun baru sebagai semangat menyambut masa yang akan datang dengan penuh harapan, kita yakin bahwa sehabis gelap akan terbit terang, setelah kesusahan akan datang kemudahan dan kita yakin bahwa pagi pasti akan datang walaupun malam terasa begitu lama dan panjang. Karena roda kehidupan selalu berputar dan tidak mungkin berhenti. Imam Syafi’i pernah berkata: ”Memang sebenarnya zaman itu sungguh menakjubkan, sekali waktu engkau akan mengalami keterpurukan, tetapi pada saat yang lain engkau memperoleh kejayaan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita jadikan peralihan tahun sebagai momen untuk melihat kembali catatan yang mewarnai perjalanan hidup masa lalu, dengan melakukan renungan atas apa yang telah kita perbuat. Kita gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia dan akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa yang paling jauh di dunia ini dari kita adalah masa lalu karena apapun kendaraannya kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Makanya kita harus menjaga hari-hari kita, baik hari ini maupun yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menggapai Impian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan waktu yang terasa begitu singkat membuat kita tidak mampu menggapai semua impian kita di masa yang lalu. Bahkan di masa sekarang pun, kita ternyata juga mempunyai mimpi yang ingin kita wujudkan. Oleh karena itu, kita perlu menulis ulang impian-impian yang belum kita capai dan kita berazam untuk mewujudkan mimpi itu di tahun ini. Kita tentu punya impian, bukan? Nah,. Saatnya kita menunjukkan diri bahwa kita mampu meraih mimpi-mimpi kita. <em>Laa Taiasuu wa laa tahzanuu</em>., janganlah berputus asa dan janganlah bersedih hati.  Allah Swt berfirman: “ <em>Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman</em>.” (Ali Imron: 139). Dengan usaha yang maksimal dari kita, yakinlah bahwa kita pasti akan mampu meraih apa yang kita impikan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Arra’d ayat 11 yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai dengan mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, selain dengan usaha, kita juga harus berdoa kepada Allah swt, memohon pertolongan kepada Allah. Rasulullah mengajarkan kepada ummatnya untuk selalu meminta kepada Allah meskipun untuk hal yang remeh, seperti tali sandal. Beliau pernah berpesan kepada Ibnu Abbas tentang pentingnya bergantung kepada Allah “ Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu butuh pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”(HR. Ahmad). Allah swt menegaskan dalam QS. Al Baqarah ayat 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”</p>
<p style="text-align: justify;">Thoyyib,  marilah kita senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah swt semaksimal mungkin agar segala impian kita dapat terwujud. Dan kita jadikan tahun baru sebagai awal lahirnya semangat baru, yakni semangat untuk menggapai segala impian dan harapan, dan semangat untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/memaknai-pergantian-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Hari &#8216;Arafah</title>
		<link>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/</link>
		<comments>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 00:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nusrotul Bariyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formmasibumi.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram yang paling terkenal dan termasuk juga merupakan bulan haji yang telah kita kenal. Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah adalah seutama-utama hari sepanjang tahun, sebagaimana dituturkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Abas r.a., Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari amal saleh yang terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="onta" src="http://formmasibumi.com/wp-content/uploads/onta.jpg" alt="onta" width="131" height="98" /><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram yang paling terkenal dan termasuk juga merupakan bulan haji yang telah kita kenal. Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah adalah seutama-utama hari sepanjang tahun, sebagaimana dituturkan dalam sebuah hadits, dari Ibnu Abas r.a., Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</em> bersabda: “Tidak ada hari-hari amal saleh yang terdapat di dalamnya yang lebih dicintai Allah selain hari-hari ini, yaitu hari-hari yang sepuluh.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sesuatu pun darinya.”(HR Bukhori, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Puasa di hari-hari yang sepuluh pada bulan Dzulhijjah ini merupakan <span id="more-164"></span>seagung-agung sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu Wata’ala </em>(kecuali hari kesepuluh-hari Ied-haram berpuasa ). Diantara yang sepuluh ini, yang paling utama adalah hari kesembilan, hari Arafah, yaitu hari ketika para jama’ah haji wuquf dalam keadaan kusut masai dengan pakaian ihram, untuk menyambut secara total seruan Allah dengan penuh ketundukan.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Hari Arafah jatuh pada tanggal sembilan di bulan Dzulhijjah. Dinamakan demikian, karena pada malam <em>tarwiyah</em> Ibrahim <em>‘Alaihissalam</em> pernah diperintahkan di dalam tidurnya untuk menyembelih puteranya, Ismail. Sehingga pada hari itu ia menjadi bimbang, apakah mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah atau hanya sekedar mimpi. Lalu pada malam berikutnya Ibrahim ternyata juga diperintahkan hal yang sama dalam tidurnya, sehingga ia pun <em>‘arofa</em> (mengetahui, meyakini), bahwa perintah tersebut berasal dari Allah <em>Subhanahu Wata’ala</em>. Untuk itu, disebutlah hari tersebut sebagai hari Arafah, yaitu hari yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang sangat besar.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Di hari Arafah ini, kita sangat dianjurkan untuk berpuasa. Nabi pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, Beliau bersabda: “menghapuskan dosa tahun yang lalu dan yang masih tersisa.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain dijelaskan pula bahwa: “Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Adapun puasa Asyura’ dapat menghapuskan dosa selama satu tahun yang telah berlalu.”(HR Muslim).</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Bagi yang mampu berpuasa, marilah kita tunaikan puasa hari &#8216;Arafah, 9 Dzulhijjah 1430H, atau bertepatan dengan hari Kamis, 26 November 2009.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Maroji’</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Yusuf Qardhawi. 2006. Fiqih Puasa. Surakarta: Era Intermedia.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"><strong>Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. 1998. Fiqih Wanita. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formmasibumi.com/oase/puasa-hari-arafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
